Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Menyeimbangkan Bisnis dan Perlindungan Alam

Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Menyeimbangkan Bisnis dan Perlindungan Alam

Pendiri grup Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto, memiliki pandangan menarik terkait bisnis dan perlindungan alam. Di mata pengusaha sumber daya yang sukses ini kelestarian lingkungan ternyata diperlukan agar bisnis berjalan baik. Oleh sebab itu, keseimbangan antara kedua hal tersebut sangat vital.
Sukanto Tanoto melihat bisnis tidak bisa berkembang jika lingkungan rusak. Begitu alam terbengkalai, dengan sendirinya kondisi manusia akan memburuk. Hal itu jelas akan berdampak negatif terhadap bidang usaha apa pun.
Profil Sukanto Tanoto sebagai pengusaha papan atas membuat pandangannya patut diperhatikan. Chairman RGE ini sudah kenyang pengalaman dalam dunia usaha. Tahun 2017 ini merupakan tahun ke-50 baginya dalam menjalani bisnis.
Selama itu, Sukanto Tanoto sudah berkecimpung di beragam bidang industri berbeda bersama RGE. Ia mengembangkan bisnis kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, hingga pengembangan energi. Dari sanalah pria kelahiran Belawan ini mendapatkan pemahaman bahwa keseimbangan antara bisnis dan perlindungan alam sangat penting.
Oleh karena itu, Sukanto Tanoto memberi perintah agar semua perusahaan di bawah kendali RGE harus menjaga kelestarian alam. Operasional perusahaan diwajibkan memberi manfaat bagi keseimbangan iklim. Ini bahkan ditegaskannya dalam filosofi bisnis RGE yang menjadi arahan kerja bagi semua pihak di perusahaannya.
Tidak mengherankan ketika anak-anak perusahaan RGE sangat memperhatikan kelestarian lingkungan. Mereka selalu mencari cara agar operasi perusahaan tidak merugikan alam. Hal ini ada di dalam setiap proses produksi dari awal hingga akhir.
Salah satu langkahnya dilakukan oleh anak perusahaan RGE yang bergerak dalam industri pulp dan kertas, Grup APRIL. Mereka dengan konsisten menjaga kelestarian alam dalam operasional perusahaannya.
Keberlanjutan bahkan sudah dirintis oleh APRIL sejak tahun 2000. Pada tahun itu, mereka mulai melakukan sertifikasi atas kayu-kayu yang menjadi bahan baku. Dengan sertifikat tersebut ada jaminan bahwa kayu-kayu itu diperoleh secara legal, bukan dari pembalakan liar. Selain itu, kayu itu dijamin tidak didapatkan dari hutan dengan nilai konservasi tinggi.
Bukan hanya itu, pada tahun 2005, APRIL kembali melakukan langkah nyata dalam perlindungan lingkungan. Mereka menjalankan proses konservasi untuk lahan seluas 250 ribu hektare di dalam area konsesinya di Provinsi Riau.
Langkah perlindungan lingkungan kemudian diteruskan oleh APRIL dengan menjalankan Sustainable Forest Management Policy 2.0 pada 2015. Sebagai bagiannya, mereka meluncurkan program konservasi 1 Banding 1. Ini adalah program pertama di dunia yang berani menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan perlindungan satu hektare begitu ada satu hektare lahan lain yang digunakan untuk produksi.
Menurut APRIL, hingga 2015, mereka sudah melakukan konservasi lahan seluas 850 ribu hektare. Jumlah itu akan terus ditambah. Pada 2015, APRIL bertekad menambah 80 ribu hektare lagi.
APRIL mau melakukannya karena sadar bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak buruk terhadap bisnis. Pernyataan Ian Wevell, Head of Operations Fire and Aviation Department mewakili dengan baik pandangan APRIL. Dia berkata, “Kayu hitam (karena terbakar, Red.) tidak bisa digunakan untuk membuat kertas putih. Pohon tidak bisa tumbuh di atas abu. Tidak masuk akal untuk membakar hutan karena itu tidak menguntungkan kami sama sekali.”

PEMANFAATAN PERKEBUNAN



Perlindungan lingkungan sudah dilakukan, namun sebagai institusi bisnis, APRIL tentu butuh lahan untuk produksi. Ini yang akhirnya membuat mereka mengembangkan perkebunan sendiri untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.
Untuk membuat pulp dan kertas, APRIL memerlukan kayu dari pohon akasia. Mereka mendapatkannya dari perkebunannya sendiri yang dikelola oleh unit bisnisnya PT Riau Andalan Pulp & Paper dan 40 mitra pemasok jangka panjang di Sumatera. Lahan yang mereka kelola mencapai 481.466 hektare.
Dari pengelolaan tersebut, sekitar 79 persen kebutuhan fiber untuk produksi pulp dan kertas sudah terpenuhi. Sisa kebutuhan produksi didapatkan dari pemasok jangka pendek yang ada di Kalimantan, Sumatera, dan Malaysia.
Demi menjaga keseimbangan alam, APRIL mendapatkan bahan baku dari perkebunan sendiri. Supaya suplainya terus terjaga, perusahaan Sukanto Tanoto ini terus meningkatkan produksi di perkebunannya.
Cara yang diambil ialah memberi kesempatan sains berperan penting. APRIL memanfaatkan tim Research & Development yang dimiliki untuk mengembangkan pendekatan sains untuk peningkatan produksi perkebunan.
Untuk mendukungnya, APRIL mempekerjakan 160 tenaga ahli di dalam tim R&D miliknya. Dari semua itu, 15 orang di antaranya merupakan lulusan doktoral. Kiprah mereka ditunjang dengan laboratorium memadai dengan fasilitas lengkap.
Hasil yang diraih akhirnya memang menggiurkan. APRIL mampu meningkatkan hasil perkebunan akasia miliknya. Pada tahun 1996, per hektare lahan menghasilkan 22 meter kubik kayu. Namun, berkat tim kiprah tim R&D, produksi meningkat hingga mencapai 32 meter kubik per hektare pada tahun 2010. Sekarang, APRIL mengejar target produksi bertambah menjadi 36 meter kubik per hektare pada tahun 2020.
“Kami sadar bahwa berinvestasi di dalam bisnis memang penting. Namun, penting pula untuk melakukan investasi dalam hal sosial dan lingkungan. Begitulah kami mampu berkelanjutan,” ujar Tony Wenas, Director APRIL Group Indonesia Operations dan President Director PT RAPP, kepada Globe Asia pada 2015.  
Anak perusahaan Sukanto Tanoto yang menyeimbangkan produksi dan perlindungan lingkungan bukan hanya APRIL. Asian Agri juga melakukan hal serupa. Produsen kelapa sawit terkemuka ini juga menjaga alam dengan memaksimalkan hasil perkebunannya.
Asian Agri memiliki kapasitas produksi mencapai satu juta ton per tahun. Untuk bisa memenuhi kebutuhan bahan baku, mereka mengelola perkebunan sendiri dengan konsep terbarukan. Bersama dengan para petani plasma, Asian Agri mengelola lahan seluas 160 ribu hektare. Dari jumlah itu, 60 ribu hektare yang dikelola oleh petani plasma.
Dari lahan yang ada tersebut, Asian Agri harus menjaga suplai bahan baku. Sama seperti APRIL, mereka mengandalkan tim riset untuk meningkatkan produktivitas perkebunan.
Mereka menamai divisi tersebut sebagai Asian Agri R&D Centre. Oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut, Asian Agri R&D Centre dilengkapi dengan beragam fasilitas dan laboratorium yang memadai.
Namun, investasi yang dilakukan berhasil dengan baik. Mereka menghasilkan bibit kelapa sawit unggulan yang dinamai Topaz. Jenis bibit ini memiliki beragam keunggulan utama yang dapat mendukung peningkatan produksi.
Topaz disebut mampu menghasilkan Tandan Buah Segar dan potensi minyak yang tinggi. Selain itu, bibit unggul ini telah mampu menghasilkan hasil produksi tinggi sejak panen pertama dilakukan.
Bukan hanya itu, berkat rekayasa genetika yang dilakukan, Topaz terbilang mudah beradaptasi di berbagai jenis lahan. Pohonnya pun tidak mudah tumbuh tinggi dengan cepat sehingga lebih gampang dipanen.
Beragam kelebihan itu membuat Topaz dimanfaatkan secara maksimal oleh Asian Agri. Pasalnya, bibit yang bermutu berpengaruh besar bagi perkebunan. Perlu diketahui, kelapa sawit merupakan investasi jangka panjang. Pohonnya baru bisa diganti dalam 25 tahun sehingga jika salah pilih perlu waktu lama untuk menanam ulang.
Pemanfaatan perkebunan secara maksimal seperti ini yang menjadi kunci bagi RGE untuk menjaga keseimbangan antara alam dan bisnis. Perusahaan Sukanto Tanoto ini memenuhi kebutuhan bahan baku dari perkebunannya sendiri.